Sunday, September 16, 2018
Aku memilih berhijab :)
Seorang teman bertanya ke saya "Tita kenapa pakai jilbab?"
Aku memilih berhijab...umm, sebenarnya sudah lama saya ingin menulis catatan ini, namun ini bukanlah hal yang mudah untuk saya, karena saya takut terkesan menggurui, karena saya amatlah jauh dari sosok ideal muslimah berhijab. Namun pagi ini setelah nonton Indahnya Islam dan Mamah Dedeh, keinginan untuk menulis semakin kuat.
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung" (Q.S. An-Nur:31).
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al Ahzab : 59)
Selain karena perintah Allaah, entah kenapa hijab membuat saya merasa lega sebagai muslimah. saya merasa lengkap dan tenang. Hijab adalah suatu kebaikan, jadi jangan ditunda :)
Hijab adalah suatu kebaikan, jadi jangan ditunda -> dulu saya mengelak dengan alasan 'belum siap' atau 'kelakuan masih gak karuan'. Tetapi guru agama saya waktu SMP dan kakak mentor saya bilang bahwa justru hijab lah yang membuat kita siap. Dengan adanya hijab, kita akan terlindungi dan bertambah malu untuk melakukan hal-hal yang tidak dilakukan. Hijab akan muncul sebagai pengingat. Ini bener banget sih, saya ngerasa banyak banget manfaat hijab sebagai rem dari perilaku saya. Tetapi ketika terkadang saya, muslimah yang telah berhijab masih melakukan perbuatan yang kurang berkenan, bukanlah hijabnya yang salah, tetapi emang sayanya.
Satu lagi yang membekas di hati ketika dl ingin memakai jilbab adalah perkataan seorang teman: kita itu beruntung tinggal di Indonesia, mau berjilbab gampang tinggal pake...coba bayangin di bbrp negara di barat sana susahnya mau pake jilbab aja sampe dibawa ke pengadilan, tp tetep aja tuh muslimahnya ga gentar n tetep berhijab.
Semakin kesini semakin saya sadar bahwa hijab adalah suatu penghormatan terhadap muslimah. Karena muslimah begitu berharga, Allah tidak membiarkan setiap orang bebas melihat keindahannya. Kecantikannya dilindungi hanya untuk orang-orang yang berhak. Tidak sembarang mata bebas memandang dan menikmati keindahannya.
Smoga kedepannya saya yang kelakuan masih ga karuan bisa terus memperbaiki, mengupgrade hijab saya agar lebih sesuai tuntunan (simply menutupi dada, menutupi aurat kecuali muka, telapak dan punggung tangan, longgar, tidak transparan, tidak menbentuk lekuk tubuh, tidak berlebihan). Ada sebuah hadist yang membuat saya ngeri, ingin segera memperbaiki hijab saya..
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: (1) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (2) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128).
Astaghfirullaah...
Sekali lagi, saya adalah orang yang teramat masih jauh dari baik, saya menulis catatan ini sekedar untuk berbagi. Mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan.
Hehe...
Aku memilih berhijab. Kalau kamu? :)
Wassalamu'alaikum warrahmatullaah wabarakatuh
Behind the stage: another story about mother's love
I had my first ER night shift in my new stage last few days. Some of accidents happened and the victims were brought to ER. This was a 53-year-old woman, came with some blood on the face, mild head injury, different lower extremity (thigh) length. Fracture of left femur may clinically diagnosed but thank God from the clinical appearance and monitor, her hemodynamic was stabile.
I asked her what was happening and she told me that... it was weekday, tomorrow her son (who I lately found out is an around 12-year-old boy) needs to go to school but it was already 8.30 and he was still in 'warnet' playing game online. She tried to call him and asked him to go home, but he didn't go home and she thought that it will be better for her to pick him up. She then went to pick him up with her husband (who now became another patient in ER with fracture of left metatarsal and mild head injury) by a motorcycle and, she didn't know exactly what happened, the accident happened.
Then three people came...her children. Her oldest son cried as well her younger daughter. Her youngest son, the one she mentioned before, with guilty face came closer to her. Instead of yell and scream angrily at him (which is perhaps what I probably will do that time. oops), she said like this to him with soft (perhaps weak) motherly tone : 'son, please just stay at home next time. just study at home. okay...' ('nak, lain kali di rumah aja ya...belajar aja di rumah ya...'). I was like '...OMG a mother really is like this'. If it were not a mother, I'm not sure it will be like this. Even they may have a lot different point of view...a mother will at the end of the day always love her children. Mothers' love are true. Love them back, then. (love the mothers of your son as well, fathers) huft... I suddenly missed my mother.
Catatan Masa SMA: Vacuum
vacuum
sometimes it can be hurting
and I just feel like dying
when u're coming
oh I will keep smiling
facing all of the sorrow
taking the bitter flow
just don't want to go slow
coz you don't follow
I will sit in a garden look the children
they are playing oh should I stop crying?
when memories remind me about you
when memories ask me to forget you
sometimes it needs the time
ended is harder than begun
in the heart oh happiness still left
I will sit in a garden look the children
they are playing oh should I stop crying?
when memories remind me about you
when memories ask me to forget you
don't wanna cry
the feelings fly
up to sky
good bye...
I will sit in a garden look the children
they are playing oh should I stop crying?
when memories remind me about you
when memories ask me to forget you
*this is a song lyric I once again wrote in the class when I was in high school ;) (kinda question my self what did I do in my high school classes....hehe ;))
**thank you for my beloved classmates who have wanted to read my writings <3
***specially rewrite for Dian Yashifa: this is the one you asked, huney. thank you for remembering this song
sometimes it can be hurting
and I just feel like dying
when u're coming
oh I will keep smiling
facing all of the sorrow
taking the bitter flow
just don't want to go slow
coz you don't follow
I will sit in a garden look the children
they are playing oh should I stop crying?
when memories remind me about you
when memories ask me to forget you
sometimes it needs the time
ended is harder than begun
in the heart oh happiness still left
I will sit in a garden look the children
they are playing oh should I stop crying?
when memories remind me about you
when memories ask me to forget you
don't wanna cry
the feelings fly
up to sky
good bye...
I will sit in a garden look the children
they are playing oh should I stop crying?
when memories remind me about you
when memories ask me to forget you
*this is a song lyric I once again wrote in the class when I was in high school ;) (kinda question my self what did I do in my high school classes....hehe ;))
**thank you for my beloved classmates who have wanted to read my writings <3
***specially rewrite for Dian Yashifa: this is the one you asked, huney. thank you for remembering this song
Catatan Masa SMA: Aku, Makhluk Cute, dan Bengawan Solo
CERITA INI HANYALAH FIKTIF BELAKA
APABILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA ATAU KARAKTER, MOHON DIMAAFKAN YAA
(I wrote this in the middle of the class in my high school...jaman-jaman ababil. makanya deh ceritanya kaya gini: SUPER TEENAGE LOVE AFFAIR. saya jg jadi malu membacanya lagii ;)) ROTFL :D
Aku, Makhluk Cute, dan Bengawan Solo
Makhluk cute itu lewat lagi di depan kelas. Dia memang selalu sibuk. Maklum, dia ketua OSIS, jadi musti ngurus-ngurus ngatur-ngatur untuk seleksi calon ketua OSIS tahun ajaran baru. Beda dengan aku, dia itu bener-bener populer, keren,... kalo orang bilang gak ada manusia yang perfect, kayanya itu gak berlaku buat dia. Kemana pun dia pergi, selalu ada yang kenal. Dimana pun dia berada, selalu tegak dan penuh percaya diri.
Kalo aku, cuma seorang yang disayang guru. Semua lomba akademis, aku pasti pesertanya (walaupun belum tentu pemenangnya). Yah, orang-orang bilang aku anak pinter. Senang sih, tapi...
“Ki, Miki! Kamu ngelamun aja. Pak Dodi manggil tuh!” Nita, teman sebangku ku yang cantik dan lumayan talkactive a.k.a. miss gossip menyadarkanku.
”Miki, kamu ikut sebentar ya, ”kata si Bapak.
Aku pun beranjak malas. Permisi ke Bu Rita yang sedang mengajar fisika. Pasti tentang lomba lagi deh.
Deg! Aku kaget. Di luar kelas ternyata Pak Dodi sudah ada dengan si makhluk cute.
”Miki bisa main biola kan? Nah sekolah kita dapat undangan lomba musik nasional. Setiap sekolah harus kirim sepasang putra-putri. Nanti yang menang tampil di Istana Merdeka tanggal 17 Agustus. Jadi rencana Bapak, Miki nanti main biola dan Arga main drum bareng,” ujar si Bapak sangat bersemangat.
Aku yakin mulutku pasti menganga dan satu detik yang lalu pasti otot-otot jantungku berhenti bekerja. Aku... si makhluk kacamata tebel, berjerawat (di dagu), rambut model gak jelas, paling gak gaul se-sekolah, dan yang ngertinya cuma belajar bakal duet dengan Arga? No!! Aku hanya akan mempermalukan diri sendiri. Aku pasti gak nyambung kalau diajak ngomong dengan Arga. Aku pasti dianggap gak asik. Arga yang merupakan kloning Widi ’Maliq n d’essential’ + kulit kecoklatan a la surfer, tatapan mata teduh, tegap, atletis, de el el, pasti malu duet dengan Miki, tukang belajar yang tempat gaulnya cuma perpustakaan, bukan mall terkemuka. Arga aja belum pernah ngomong dengan aku. I’d better mengundurkan diri.
”Tapi, Pak, saya sudah lama gak main biola. Maaf ya, Pak,” kataku sambil menunduk. Mana mungkin aku meliat Arga. Kayak lagu: ”you’re just too good to be true..” (tapi bedanya “I have to take my eyes of you” aarrrkkkhhhh). Apalagi kata si miss gossip Nita, Arga itu single. OH MY GOD!
“Eh, gak apa-apa. Kan ada latihan bareng Arga. Pokoknya, Bapak taunya Miki harus ikut. Nanti sore latihan jam 3 dengan Bu Yul guru kesenian di ruang kesenian. Ok. Sekarang belajar lagi ya,” kata Pak Dodi yang hanya direspon dengan anggukan Arga. Arga saja gak mau ngomong denganku. Tapi, mau bagaimana lagi? Kalau begini, aku hanya bisa menurut sanbil melangkahkan kaki ke kelas. Lesu.
***
Aku benar-benar kesal dengan rambutku. Benar-benar kacau. Digerai, gak mungkin karena pasti nanti ada rambut yang terbang-terbang. Dikuncir... kasian rambutnya. Dijepit, sakit dan pegel. Kenapa sih rambutku gak jatuh kayak model iklan? Ah, sudahlah. Sekali-kali biarin deh dikuncir aja. Daripada Arga melihat rambutku yang gak rapih. Can’t imagine it!
Sesampainya di depan sekolah, aku mengikat rambutku. Saat aku berjalan menuju gerbang, sebuah sedan (kalo gak salah New Accord) itam berhenti. Dan... ups benar, he’s Arga. Aku buru-buru masuk ke sekolah. Gak mungkin kan aku nunggu Arga? Ngarep ditemenin emangnya? (Iya sih...)
”Ok. Pertama lagu Indonesia Pusaka. Miki main biolanya dulu. Waktu ‘...disana tempat lahir beta’ baru Arga masuk. Nah, ini partiturnya,” kata Bu Yul super duper berapi-api , “3, 4, mulai!”
Aku menggesek biolaku dengan agak ragu. Nervous! Ada nada-nada yang justru gak kegesek. Rasanya, permainanku tadi tanpa irama. Cuma ngek..ngek..ngek.. gak jelas.
“Stop...Stop! Miki, kok geseknya aneh gak jelas? Ulangi lagi!” kata si Ibu sesuai dengan pikiranku.
Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengurangi getaran otot-otot tanganku. Aku memperbaiki kacamataku, supaya kalaupun kepalaku miring ke biola, aku masih bisa melihat partitur dengan jelas. Aku melirik sedikit ke arah Arga. Tetep cool dengan drumnya. Seolah-olah Arga siap beraksi. Bener-bener gak sesuai dengan aku yang gugup.
Konsentrasi...
Konsentrasi...
Aku mulai menggesek biolaku lagi. Lumayan lancar karena aku sudah mendapat iramanya. Ternyata cukup menyenangkan.
“Yak... Arga masuk!” Kata Bu Yul dengan sangat antusias. Mulai kendengaran bunyi drum. Ahhh!!! Suara-suara itu mengacau kepalaku. No! Rasanya kembali terdengar bunyi ngek...ngek...ngek...
”Haduh... Miki, konsentrasi! Ayo ulangi lagi!” Bu Yul menggelengkan kepalanya. Aku belum pernah sekacau ini saat latihan persiapan lomba. Biasanya aku selalu tenang dan konsentrasi. Tapi sekarang? Benar-benar hari yang aneh.
***
Hari latihan selanjutnya, aku sudah lancar sehingga Bu Yul tambah semangat mengajar. ”Bagus...bagus...jadi untuk tampil besok, Ibu rasa kalian sudah cukup mengesankan. Nah...ayo kita la...” belum sempat mengucapkan kata latihan, handphone Bu Yul sudah duluan berbunyi. Bu Yul lalu keluar ruangan.
”Aduh, nak...saya baru ingat, saya ada pertemuan di dinas pendidikan,” kata Bu Yul kemudian saat masuk kembali ke ruangan. Aku mulai bisa membayangkan kalimat lanjutan dari kata-kata Bu Yul. Ngga mungkin kan....”Jadi, Miki dengan Arga latihan aja dulu sampe jam 4. Maaf ya,” Bu Yul mengambil tas tangannya di atas keyboard dan pergi terburu-buru.
Now what?
1 detik...
2 detik...
Hening. Aku pun juga gak bisa memulai percakapan. Aku memang payah. Aku pun lagi-lagi gak bisa melihat Arga. Tiba-tiba terdengar lagu Fur Elise. Aku kaget lalu melihat ke arah keyboard.
”Eh... Ar...ga?”
”Eh... em...uh... jelek banget ya? Aku udah lama pengen nyoba...,” kata Arga malu-malu. Jujur... dia tambah cakep. ”Dulu Aku bisa main piano. Cuma udah lama banget. Waktu SD.”
”Wah, itu mah masih bagus,“ aku lalu mengambil biolaku, memejamkan mata, lalu mulai menggesek biolaku. Fur Elise. Lagu yang sangat bagus dan dalem.
”Plok...plok...plok... bagus lo!” Arga mengacungkan kedua jempolnya ke aku. ”Miki bener-bener cewek berbakat ya...”
”Enggak kok. Semua orang juga pasti bisa. Kebetulan aja aku sering latihan.” Ups... aneh rasanya ngomong dengan Arga. Diliatin lagi. Tapi... yang pasti... ternyata Arga ramah juga. Anak basket, bisa main piano dan drum, cool, pinter, cakep, single... ups lagi. ”A...ayo latihan Arga!”
Saat Arga hendak memukul drum, hujan seketika turun. Lumyan deras. Dari tadi memang sudah mendung dan sekarang sedang musim ujan. Jadi, agak wajar. Cuma... aku kan sedang dengan Arga!
Arga spontan berhenti memukul drumnya. ”Wah, Miki, hujan ni. Pulang aja gimana? Ntar jalanan keburu banjir,” kata Arga menatapku. Biasa... matanya tajam, tapi teduh... meneduhkan disaat hujan. Aarggh ... aku makin ngawur nih.
”Em...iya...terserah aja.” Aku lalu mengambil handphone di saku celana coklatku, menekan speed dial 2 menelepon kakakku. ”Ta, jemput dong. Di sekolah. Cepetan yaa. Makasih.”
”Lho, kok minta jemput? Kamu kan bisa bareng Aku. Dah telpon lagi. Bilang bareng temen. Kasian kan yang jemput,” kata Arga sambil membenahi drumnya. Aku mengangguk pelan. Gak kuasa menolak Arga, tapi rada takut. Aku pasti cuma jadi obat nyamuk di mobil Arga. Mau ngomong apa coba? Omonganku dengan dia bakal gak ada nyambungnya. Dia anak supergaul, yang diomongin pasti cafe yang baru buka atau film terbaru atau album lagunya band ini or itulah. Aku... hohoho... yang bakal aku omongin, segala macem di buku, yang tipe-tipe epitel apa or hukum Mendel lah... parah.
Baju dan rambutku agak basah kuyup waktu masuk ke mobil Arga. Aku bawa payung, sih. Tapi, plis deh, entar Arga kira aku sok putri-putrian. Gak banget.
Diem-dieman kayanya udah jadi trademark kami. Ya iyalah. Tapi lama-lama aku bosen juga. Hari hujan gini, paling gak sampe rumah 3 jam lagi. Silent aja? Duh, aku pengen banget ngomong sama Arga... tapi... tapi... kenapa sih ada kata ’tapi’? kenapa juga aku negative thinking n ngeluuuuuhh melulu?
”Emmm... Arga....” Hufff, akhirnya aku bisa ngomong juga.
”Apa?” Jeglek. Mentalku langsung down denger suara Arga. Dalem, berat, cool, keren, cool, keren, cool, keren. Kayak suara pengisi suara di drama korea yang sering ditonton kakak. This is a real guy voice.
”Emmm... makasih...” kataku bener-bener gugup, tapi aku beneran sudah berusaha mengeluarkan suara sebiasa mungkin dan ... secewek mungkin (lembut maksudnya).
Arga menarik bibirnya ke pinggir. Senyum. Kalo gunung es di Atlantik liat senyumannya, Inggris bisa-bisa banjir karena gunung esnya cair. Haaahhh.... what makes this guy so cool?
“Biasa aja lagi. Anggap aja tanda terima kasih karena tadi Fur Elise nya bagus,” Arga senyum LAGI!
“Ah enggak kok. Biasa aja. Sebenernya ada yang bagus lagi. Bengawan Solo,” kataku, agak lancar sih ngomongnya tapi agak malu karena lagu Bengawan Solo kan jadul.
“Eh, Kamu juga suka Bengawan Solo?” Arga menatapku sekilas. DEG DEG...
“I....iya.”
“Waaahhh... Aku suka banget sama Bengawan Solo. Aku pertama belajar Bengawan Solo waktu kelas 2 SD dan baru bagus waktu kelas 3. Lagunya menyentuh. Keren banget!!” Arga nyengir.
“Aku gak nyangka kamu suka juga lagu begituan. Itu kan jadul.”
Mata Arga melihat lurus ke jalan sambil tersenyum kecil. “Dulu waktu SD, aku orangnya sering diejek temen-temen, karena badan aku kecil banget. Yah karena masih kecil, aku mudah nangis dan gak cerita ke siapa-siapa karena takut dianggap lemah. Untuk menghindari temen-temen, Aku gak ikutan les or eskul apa-apa. Aku di rumah aja belajar piano sama kakekku. Beliau sayang banget sama aku. Beliau kayanya tau aku melarikan diri dari temen-temenku. Beliau selalu bilang, jangan terus-terusan menghindar dari masalah. Jadi orang harus tegar. Kayak pejuang kemerdekaan jaman dulu. Tegar menghadapi musuh-musuh untuk satu nusa dan bangsa. Kalo pahlawan-pahlawan dulu yang lawannya aja berat tetap semangat untuk berjuang, kenapa kita yang lawannya gak seberat itu malah down. Harus semangat dan percaya diri untuk mencoba berteman. Itu bener-bener memompa semangat aku untuk tegar dan kuat di depan teman-teman yang selalu ngejekin aku. Akhirnya kita semua malah berteman setelah aku beraniin buat menghadapi mereka. Mereka ternyata gak jahat. Aku gak lupa dengan nasihat beliau. Beliau nasihatin aku sambil ngajarin piano, dengan lagu kesayangannya: Bengawan Solo. Beliau ngajarin Aku Bengawan Solo dengan sebegitu sabarnya, lebih dari itu, beliau ngajarin aku makna hidup buat selalu semangat. Walau pun beliau udah gak ada, Aku bakal terus mengenang beliau. Makanya, Aku sukaaaaaa banget dengan Bengawan Solo. Ehehehe... Aku jadi curhat. Maaf ya, Miki. Diem-diem aja ya. Aku cuma cerita ini ke kamu karena kayaknya kamu yang bener-bener nyambung tentang ini. Hehehe. Malu Aku, ” Arga terus-terusan tersenyum.
Aku terdiam. Terpana mendengar kata-kata Arga. Selama ini aku selalu berpikir aku dengan Arga gak bakal nyambung kalo ngobrol. Padahal aku belum pernah ngobrol dengan Arga. Aku keburu menilai Arga gak mungkin mau ngomong dengan aku, padahal ternyata ada hal yang cuma Arga omongin dengan aku. Selama ini aku gak pernah berani menghadapi Arga karena malu dan merasa rendah soalnya Arga itu supergaul dan aku super gak gaul. Aku terburu-buru menilai orang yang sebenarnya bahkan belum aku kenal. Aku gak tegar untuk mencoba berteman dengan Arga.
”Eh, Miki, batas maksimal tampil besok kan 15 menit, gimana kalo habis lagu terakhir, kita mainin Bengawan Solo aja? Di panggung pasti disediain keyboard, nah aku pindah ke keyboard. Kita bilang aja ke Bu Yul itu tambahan latihan hari ini. Tentang latihan...” Arga melihat jam di mobilnya. Jam 4 lewat 10 menit. ”Kamu musti sampe di rumah jam berapa?”
”Aku bisa kok latihan lagi.Kalo ke sekolah lagi tinggal keluar tol dan muter 30 menitan sampelah,”kataku tersenyum lebar.
***
”Dasar aku ini. Semalam bukannya latihan untuk lomba sekarang malah nulis-nulis gak jelas. Huh,” pikirku sambil menatap kaca di ruang ganti belakang panggung. Di kaca tampak perempuan yang cukup tinggi, berponi sealis, rambut sebahu digerai (diblow kakakku), dan dijepit putih manis di atas telinga. Sesuai dengan gaunku yang juga putih, tanpa kacamata, tanpa lensa kontak (dan jerawat di dagu yang dengan berhasil di make-up kakakku sehingga gak terlalu kelihatan). Manis juga. Kurasa karena aku sekarang sudah cukup percaya diri setelah curhat pada diri sendiri. Hihi.
”Miki, giliran kamu sebentar lagi,” Bu Yul memanggilku untuk keluar. Arga... sangat ganteng seperti seorang pangeran. Jasnya... putih...dasinya merah...rambutnya ditata rapi. Matanya, senyumnya, benar-benar ramah. Kali ini, aku tidak akan rendah diri lagi walau harus berdampingan dengan sang pangeran. Karena sang pangeran bukanlah pangeran sombong, lagipula, untuk tampak canti, aku harus percaya diri. Aku harus berusaha untuk bisa!
***
Sekarang jeda sebelum pengumuman. Aku gak peduli gimana penampilanku tadi. Aku sudah berusaha sebaik-baiknya. ”Miki, bisa ngomong bentar?” Arga memanggilku. Ada apa ya? Aku pun beranjak ke tempat Arga. Nyaris di luar ruangan. ”Miki, maaf yaa, selama ini aku kira kamu gak mau kerja sama aku. Kamu soalnya diem terus. Gak pernah ngomong. Aku udah lama tau kalo kamu pinter, berbakat, dan serba bisa. Tapi, aku bener-bener gak nyangka kalo kamu gak cuma peduli sama buku-buku kamu. Ternyata kamu bener-bener ramah dan enak diajak ngobrol. Kamu ngerti lagu yang aku suka yang orang lain belum tentu suka or mau ngaku suka lagu itu. Aku seneng punya temen kayak kamu.” Arga lagi-lagi dan lagi senyum. Kenapa sih ni anak gampang banget ketawa dan mamer kecakepannya?
”Argaa... Aku juga gak nyangka bakal ngomong-ngomong sama kamu. Aku gak nyangka kamu ramah. Aku selalu mikir kalo aku gak bakal bisa lomba bareng kamu. Aku kira kamu itu anak gaul yang sombong yang gak bakal mau ngomong sama aku. Aku merasa berdosa dan aku gak enak pernah mikir yang jelek-jelek tentang kamu. Nah aku lega sekarang. Makasih yaaa,” aku tersenyum. Aku senaaaang!!
”Oh iya,” sambung Arga,” ada kertas ketinggalan di ruang ganti waktu kamu keluar. Buat aku ya.” Arga berlalu. Mendadak mukaku panas. Pasti tampangku sudah kayak tomat rebus. Itu... itu coretanku semalam! ”Ternyata kita banyak persamaan ya. Termasuk yang tertulis di kertas ini.” Arga lalu membalikkan badannya, senyum (terus aja), menatapku, dan melambaikan kertas.
Hujan mengingatkanku pada dirimu
Matamu yang memproyeksikan pelangi
Tatapanmu yang meneduhkanku
Senyummu... tawamu... gugupku...
Bengawan Solo-mu... dirimu...
Aah... aku ingin tahu segala tentangmu
Bisakah aku mengetahuinya?
Bolehkah aku mengetahuinya?
***
t_2005
APABILA TERDAPAT KESAMAAN NAMA ATAU KARAKTER, MOHON DIMAAFKAN YAA
(I wrote this in the middle of the class in my high school...jaman-jaman ababil. makanya deh ceritanya kaya gini: SUPER TEENAGE LOVE AFFAIR. saya jg jadi malu membacanya lagii ;)) ROTFL :D
Aku, Makhluk Cute, dan Bengawan Solo
Makhluk cute itu lewat lagi di depan kelas. Dia memang selalu sibuk. Maklum, dia ketua OSIS, jadi musti ngurus-ngurus ngatur-ngatur untuk seleksi calon ketua OSIS tahun ajaran baru. Beda dengan aku, dia itu bener-bener populer, keren,... kalo orang bilang gak ada manusia yang perfect, kayanya itu gak berlaku buat dia. Kemana pun dia pergi, selalu ada yang kenal. Dimana pun dia berada, selalu tegak dan penuh percaya diri.
Kalo aku, cuma seorang yang disayang guru. Semua lomba akademis, aku pasti pesertanya (walaupun belum tentu pemenangnya). Yah, orang-orang bilang aku anak pinter. Senang sih, tapi...
“Ki, Miki! Kamu ngelamun aja. Pak Dodi manggil tuh!” Nita, teman sebangku ku yang cantik dan lumayan talkactive a.k.a. miss gossip menyadarkanku.
”Miki, kamu ikut sebentar ya, ”kata si Bapak.
Aku pun beranjak malas. Permisi ke Bu Rita yang sedang mengajar fisika. Pasti tentang lomba lagi deh.
Deg! Aku kaget. Di luar kelas ternyata Pak Dodi sudah ada dengan si makhluk cute.
”Miki bisa main biola kan? Nah sekolah kita dapat undangan lomba musik nasional. Setiap sekolah harus kirim sepasang putra-putri. Nanti yang menang tampil di Istana Merdeka tanggal 17 Agustus. Jadi rencana Bapak, Miki nanti main biola dan Arga main drum bareng,” ujar si Bapak sangat bersemangat.
Aku yakin mulutku pasti menganga dan satu detik yang lalu pasti otot-otot jantungku berhenti bekerja. Aku... si makhluk kacamata tebel, berjerawat (di dagu), rambut model gak jelas, paling gak gaul se-sekolah, dan yang ngertinya cuma belajar bakal duet dengan Arga? No!! Aku hanya akan mempermalukan diri sendiri. Aku pasti gak nyambung kalau diajak ngomong dengan Arga. Aku pasti dianggap gak asik. Arga yang merupakan kloning Widi ’Maliq n d’essential’ + kulit kecoklatan a la surfer, tatapan mata teduh, tegap, atletis, de el el, pasti malu duet dengan Miki, tukang belajar yang tempat gaulnya cuma perpustakaan, bukan mall terkemuka. Arga aja belum pernah ngomong dengan aku. I’d better mengundurkan diri.
”Tapi, Pak, saya sudah lama gak main biola. Maaf ya, Pak,” kataku sambil menunduk. Mana mungkin aku meliat Arga. Kayak lagu: ”you’re just too good to be true..” (tapi bedanya “I have to take my eyes of you” aarrrkkkhhhh). Apalagi kata si miss gossip Nita, Arga itu single. OH MY GOD!
“Eh, gak apa-apa. Kan ada latihan bareng Arga. Pokoknya, Bapak taunya Miki harus ikut. Nanti sore latihan jam 3 dengan Bu Yul guru kesenian di ruang kesenian. Ok. Sekarang belajar lagi ya,” kata Pak Dodi yang hanya direspon dengan anggukan Arga. Arga saja gak mau ngomong denganku. Tapi, mau bagaimana lagi? Kalau begini, aku hanya bisa menurut sanbil melangkahkan kaki ke kelas. Lesu.
***
Aku benar-benar kesal dengan rambutku. Benar-benar kacau. Digerai, gak mungkin karena pasti nanti ada rambut yang terbang-terbang. Dikuncir... kasian rambutnya. Dijepit, sakit dan pegel. Kenapa sih rambutku gak jatuh kayak model iklan? Ah, sudahlah. Sekali-kali biarin deh dikuncir aja. Daripada Arga melihat rambutku yang gak rapih. Can’t imagine it!
Sesampainya di depan sekolah, aku mengikat rambutku. Saat aku berjalan menuju gerbang, sebuah sedan (kalo gak salah New Accord) itam berhenti. Dan... ups benar, he’s Arga. Aku buru-buru masuk ke sekolah. Gak mungkin kan aku nunggu Arga? Ngarep ditemenin emangnya? (Iya sih...)
”Ok. Pertama lagu Indonesia Pusaka. Miki main biolanya dulu. Waktu ‘...disana tempat lahir beta’ baru Arga masuk. Nah, ini partiturnya,” kata Bu Yul super duper berapi-api , “3, 4, mulai!”
Aku menggesek biolaku dengan agak ragu. Nervous! Ada nada-nada yang justru gak kegesek. Rasanya, permainanku tadi tanpa irama. Cuma ngek..ngek..ngek.. gak jelas.
“Stop...Stop! Miki, kok geseknya aneh gak jelas? Ulangi lagi!” kata si Ibu sesuai dengan pikiranku.
Aku menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengurangi getaran otot-otot tanganku. Aku memperbaiki kacamataku, supaya kalaupun kepalaku miring ke biola, aku masih bisa melihat partitur dengan jelas. Aku melirik sedikit ke arah Arga. Tetep cool dengan drumnya. Seolah-olah Arga siap beraksi. Bener-bener gak sesuai dengan aku yang gugup.
Konsentrasi...
Konsentrasi...
Aku mulai menggesek biolaku lagi. Lumayan lancar karena aku sudah mendapat iramanya. Ternyata cukup menyenangkan.
“Yak... Arga masuk!” Kata Bu Yul dengan sangat antusias. Mulai kendengaran bunyi drum. Ahhh!!! Suara-suara itu mengacau kepalaku. No! Rasanya kembali terdengar bunyi ngek...ngek...ngek...
”Haduh... Miki, konsentrasi! Ayo ulangi lagi!” Bu Yul menggelengkan kepalanya. Aku belum pernah sekacau ini saat latihan persiapan lomba. Biasanya aku selalu tenang dan konsentrasi. Tapi sekarang? Benar-benar hari yang aneh.
***
Hari latihan selanjutnya, aku sudah lancar sehingga Bu Yul tambah semangat mengajar. ”Bagus...bagus...jadi untuk tampil besok, Ibu rasa kalian sudah cukup mengesankan. Nah...ayo kita la...” belum sempat mengucapkan kata latihan, handphone Bu Yul sudah duluan berbunyi. Bu Yul lalu keluar ruangan.
”Aduh, nak...saya baru ingat, saya ada pertemuan di dinas pendidikan,” kata Bu Yul kemudian saat masuk kembali ke ruangan. Aku mulai bisa membayangkan kalimat lanjutan dari kata-kata Bu Yul. Ngga mungkin kan....”Jadi, Miki dengan Arga latihan aja dulu sampe jam 4. Maaf ya,” Bu Yul mengambil tas tangannya di atas keyboard dan pergi terburu-buru.
Now what?
1 detik...
2 detik...
Hening. Aku pun juga gak bisa memulai percakapan. Aku memang payah. Aku pun lagi-lagi gak bisa melihat Arga. Tiba-tiba terdengar lagu Fur Elise. Aku kaget lalu melihat ke arah keyboard.
”Eh... Ar...ga?”
”Eh... em...uh... jelek banget ya? Aku udah lama pengen nyoba...,” kata Arga malu-malu. Jujur... dia tambah cakep. ”Dulu Aku bisa main piano. Cuma udah lama banget. Waktu SD.”
”Wah, itu mah masih bagus,“ aku lalu mengambil biolaku, memejamkan mata, lalu mulai menggesek biolaku. Fur Elise. Lagu yang sangat bagus dan dalem.
”Plok...plok...plok... bagus lo!” Arga mengacungkan kedua jempolnya ke aku. ”Miki bener-bener cewek berbakat ya...”
”Enggak kok. Semua orang juga pasti bisa. Kebetulan aja aku sering latihan.” Ups... aneh rasanya ngomong dengan Arga. Diliatin lagi. Tapi... yang pasti... ternyata Arga ramah juga. Anak basket, bisa main piano dan drum, cool, pinter, cakep, single... ups lagi. ”A...ayo latihan Arga!”
Saat Arga hendak memukul drum, hujan seketika turun. Lumyan deras. Dari tadi memang sudah mendung dan sekarang sedang musim ujan. Jadi, agak wajar. Cuma... aku kan sedang dengan Arga!
Arga spontan berhenti memukul drumnya. ”Wah, Miki, hujan ni. Pulang aja gimana? Ntar jalanan keburu banjir,” kata Arga menatapku. Biasa... matanya tajam, tapi teduh... meneduhkan disaat hujan. Aarggh ... aku makin ngawur nih.
”Em...iya...terserah aja.” Aku lalu mengambil handphone di saku celana coklatku, menekan speed dial 2 menelepon kakakku. ”Ta, jemput dong. Di sekolah. Cepetan yaa. Makasih.”
”Lho, kok minta jemput? Kamu kan bisa bareng Aku. Dah telpon lagi. Bilang bareng temen. Kasian kan yang jemput,” kata Arga sambil membenahi drumnya. Aku mengangguk pelan. Gak kuasa menolak Arga, tapi rada takut. Aku pasti cuma jadi obat nyamuk di mobil Arga. Mau ngomong apa coba? Omonganku dengan dia bakal gak ada nyambungnya. Dia anak supergaul, yang diomongin pasti cafe yang baru buka atau film terbaru atau album lagunya band ini or itulah. Aku... hohoho... yang bakal aku omongin, segala macem di buku, yang tipe-tipe epitel apa or hukum Mendel lah... parah.
Baju dan rambutku agak basah kuyup waktu masuk ke mobil Arga. Aku bawa payung, sih. Tapi, plis deh, entar Arga kira aku sok putri-putrian. Gak banget.
Diem-dieman kayanya udah jadi trademark kami. Ya iyalah. Tapi lama-lama aku bosen juga. Hari hujan gini, paling gak sampe rumah 3 jam lagi. Silent aja? Duh, aku pengen banget ngomong sama Arga... tapi... tapi... kenapa sih ada kata ’tapi’? kenapa juga aku negative thinking n ngeluuuuuhh melulu?
”Emmm... Arga....” Hufff, akhirnya aku bisa ngomong juga.
”Apa?” Jeglek. Mentalku langsung down denger suara Arga. Dalem, berat, cool, keren, cool, keren, cool, keren. Kayak suara pengisi suara di drama korea yang sering ditonton kakak. This is a real guy voice.
”Emmm... makasih...” kataku bener-bener gugup, tapi aku beneran sudah berusaha mengeluarkan suara sebiasa mungkin dan ... secewek mungkin (lembut maksudnya).
Arga menarik bibirnya ke pinggir. Senyum. Kalo gunung es di Atlantik liat senyumannya, Inggris bisa-bisa banjir karena gunung esnya cair. Haaahhh.... what makes this guy so cool?
“Biasa aja lagi. Anggap aja tanda terima kasih karena tadi Fur Elise nya bagus,” Arga senyum LAGI!
“Ah enggak kok. Biasa aja. Sebenernya ada yang bagus lagi. Bengawan Solo,” kataku, agak lancar sih ngomongnya tapi agak malu karena lagu Bengawan Solo kan jadul.
“Eh, Kamu juga suka Bengawan Solo?” Arga menatapku sekilas. DEG DEG...
“I....iya.”
“Waaahhh... Aku suka banget sama Bengawan Solo. Aku pertama belajar Bengawan Solo waktu kelas 2 SD dan baru bagus waktu kelas 3. Lagunya menyentuh. Keren banget!!” Arga nyengir.
“Aku gak nyangka kamu suka juga lagu begituan. Itu kan jadul.”
Mata Arga melihat lurus ke jalan sambil tersenyum kecil. “Dulu waktu SD, aku orangnya sering diejek temen-temen, karena badan aku kecil banget. Yah karena masih kecil, aku mudah nangis dan gak cerita ke siapa-siapa karena takut dianggap lemah. Untuk menghindari temen-temen, Aku gak ikutan les or eskul apa-apa. Aku di rumah aja belajar piano sama kakekku. Beliau sayang banget sama aku. Beliau kayanya tau aku melarikan diri dari temen-temenku. Beliau selalu bilang, jangan terus-terusan menghindar dari masalah. Jadi orang harus tegar. Kayak pejuang kemerdekaan jaman dulu. Tegar menghadapi musuh-musuh untuk satu nusa dan bangsa. Kalo pahlawan-pahlawan dulu yang lawannya aja berat tetap semangat untuk berjuang, kenapa kita yang lawannya gak seberat itu malah down. Harus semangat dan percaya diri untuk mencoba berteman. Itu bener-bener memompa semangat aku untuk tegar dan kuat di depan teman-teman yang selalu ngejekin aku. Akhirnya kita semua malah berteman setelah aku beraniin buat menghadapi mereka. Mereka ternyata gak jahat. Aku gak lupa dengan nasihat beliau. Beliau nasihatin aku sambil ngajarin piano, dengan lagu kesayangannya: Bengawan Solo. Beliau ngajarin Aku Bengawan Solo dengan sebegitu sabarnya, lebih dari itu, beliau ngajarin aku makna hidup buat selalu semangat. Walau pun beliau udah gak ada, Aku bakal terus mengenang beliau. Makanya, Aku sukaaaaaa banget dengan Bengawan Solo. Ehehehe... Aku jadi curhat. Maaf ya, Miki. Diem-diem aja ya. Aku cuma cerita ini ke kamu karena kayaknya kamu yang bener-bener nyambung tentang ini. Hehehe. Malu Aku, ” Arga terus-terusan tersenyum.
Aku terdiam. Terpana mendengar kata-kata Arga. Selama ini aku selalu berpikir aku dengan Arga gak bakal nyambung kalo ngobrol. Padahal aku belum pernah ngobrol dengan Arga. Aku keburu menilai Arga gak mungkin mau ngomong dengan aku, padahal ternyata ada hal yang cuma Arga omongin dengan aku. Selama ini aku gak pernah berani menghadapi Arga karena malu dan merasa rendah soalnya Arga itu supergaul dan aku super gak gaul. Aku terburu-buru menilai orang yang sebenarnya bahkan belum aku kenal. Aku gak tegar untuk mencoba berteman dengan Arga.
”Eh, Miki, batas maksimal tampil besok kan 15 menit, gimana kalo habis lagu terakhir, kita mainin Bengawan Solo aja? Di panggung pasti disediain keyboard, nah aku pindah ke keyboard. Kita bilang aja ke Bu Yul itu tambahan latihan hari ini. Tentang latihan...” Arga melihat jam di mobilnya. Jam 4 lewat 10 menit. ”Kamu musti sampe di rumah jam berapa?”
”Aku bisa kok latihan lagi.Kalo ke sekolah lagi tinggal keluar tol dan muter 30 menitan sampelah,”kataku tersenyum lebar.
***
”Dasar aku ini. Semalam bukannya latihan untuk lomba sekarang malah nulis-nulis gak jelas. Huh,” pikirku sambil menatap kaca di ruang ganti belakang panggung. Di kaca tampak perempuan yang cukup tinggi, berponi sealis, rambut sebahu digerai (diblow kakakku), dan dijepit putih manis di atas telinga. Sesuai dengan gaunku yang juga putih, tanpa kacamata, tanpa lensa kontak (dan jerawat di dagu yang dengan berhasil di make-up kakakku sehingga gak terlalu kelihatan). Manis juga. Kurasa karena aku sekarang sudah cukup percaya diri setelah curhat pada diri sendiri. Hihi.
”Miki, giliran kamu sebentar lagi,” Bu Yul memanggilku untuk keluar. Arga... sangat ganteng seperti seorang pangeran. Jasnya... putih...dasinya merah...rambutnya ditata rapi. Matanya, senyumnya, benar-benar ramah. Kali ini, aku tidak akan rendah diri lagi walau harus berdampingan dengan sang pangeran. Karena sang pangeran bukanlah pangeran sombong, lagipula, untuk tampak canti, aku harus percaya diri. Aku harus berusaha untuk bisa!
***
Sekarang jeda sebelum pengumuman. Aku gak peduli gimana penampilanku tadi. Aku sudah berusaha sebaik-baiknya. ”Miki, bisa ngomong bentar?” Arga memanggilku. Ada apa ya? Aku pun beranjak ke tempat Arga. Nyaris di luar ruangan. ”Miki, maaf yaa, selama ini aku kira kamu gak mau kerja sama aku. Kamu soalnya diem terus. Gak pernah ngomong. Aku udah lama tau kalo kamu pinter, berbakat, dan serba bisa. Tapi, aku bener-bener gak nyangka kalo kamu gak cuma peduli sama buku-buku kamu. Ternyata kamu bener-bener ramah dan enak diajak ngobrol. Kamu ngerti lagu yang aku suka yang orang lain belum tentu suka or mau ngaku suka lagu itu. Aku seneng punya temen kayak kamu.” Arga lagi-lagi dan lagi senyum. Kenapa sih ni anak gampang banget ketawa dan mamer kecakepannya?
”Argaa... Aku juga gak nyangka bakal ngomong-ngomong sama kamu. Aku gak nyangka kamu ramah. Aku selalu mikir kalo aku gak bakal bisa lomba bareng kamu. Aku kira kamu itu anak gaul yang sombong yang gak bakal mau ngomong sama aku. Aku merasa berdosa dan aku gak enak pernah mikir yang jelek-jelek tentang kamu. Nah aku lega sekarang. Makasih yaaa,” aku tersenyum. Aku senaaaang!!
”Oh iya,” sambung Arga,” ada kertas ketinggalan di ruang ganti waktu kamu keluar. Buat aku ya.” Arga berlalu. Mendadak mukaku panas. Pasti tampangku sudah kayak tomat rebus. Itu... itu coretanku semalam! ”Ternyata kita banyak persamaan ya. Termasuk yang tertulis di kertas ini.” Arga lalu membalikkan badannya, senyum (terus aja), menatapku, dan melambaikan kertas.
Hujan mengingatkanku pada dirimu
Matamu yang memproyeksikan pelangi
Tatapanmu yang meneduhkanku
Senyummu... tawamu... gugupku...
Bengawan Solo-mu... dirimu...
Aah... aku ingin tahu segala tentangmu
Bisakah aku mengetahuinya?
Bolehkah aku mengetahuinya?
***
t_2005
Walau mereka tak tersenyum lagi padaku
"Mama...Mama...jangan sedih lagi Ma... Sudahlah Papa jangan dicari lagi...," gadis itu berkata untuk kesekian kalinya, lagi, dan lagi kepadaku. Sejak tiga hari yang lalu berusaha menghiburku. Tersenyum lirih dengan bajunya yang kusut, kotor, dan tak diganti.
"Hmmmhhh," aku menghela nafas. Beranjak meninggalkannya. Melangkah menjauh darinya.
"Mamaaaa....Jangan pergi Mamaaaa!!!" Dia berusaha menahan langkahku dengan teriakannya. Tapi aku tetap pergi darinya.
Entah mengapa dia memanggilku mama. Begitu pula setiap orang yang mendekat padanya. Keadaan ini pasti begitu berat baginya sehingga terpukul jiwanya.
Aku menatap sekeliling yang masih penuh kekacauan. Darah, tanah, dokter, tentara, orang-orang lalu lalang, teriakan, tangisan. Aku sendiri juga kacau. Galau.
Pokk...
Seseorang memukul pundakku. Aku berbalik. Kali ini seorang pria yang aku tak tahu apakah aku menginginkan kedatangannya atau tidak. Sebenarnya aku berharap dia tak usah ada disini.
"Sudah datang lagi,"katanya padaku seraya melangkah keluar. Aku mengikutinya, mengikuti langkahnya, melihat satu-satu ke yang disebutnya 'sudah datang lagi'. Lama aku mencari, meneliti, dan cemas sampai akhirnya aku berhenti. Itu mereka!!!
***
"Malasss. Malas harus jaga sore ini. Padahal kan mau makan-makan di rumah dengan Tiara," aku menyerahkan keponakanku yang baru berumur tepat satu tahun itu kembali ke pelukan ibunya, uniku, uni (kakak perempuan) Lia.
"Iya kan Mia calon dokter. Harus semangatlah," Ibu menyemangatiku sambil terseyum teduh. Senyum khas seorang Ibu untuk anaknya.
"Hahaha. Kasiaaaaannnn!!" Uni Lia menggodaku. "Kami di rumah mau makan-makan semua. Uni, Uda, Ibu, Bapak, Tiara."
"Huuhh,"kataku sebal. Seharusnya hari ini bukan jadwalku jaga, hanya saja temanku mendadak sakit dan hanya aku yang bisa menggantikannya jaga. Padahal hari ini sudah direncanakan akan ada perayaan ulang tahun Tiara. Makan ikan bakar, rendang, dan lain-lain di rumah. Lengkap dengan semua anggota keluarga. Beginilah nasib co-ass, kadang jadwal jaga suka tidak bisa dikompromikan. Jangankan hanya ulang tahun keponakan, lebaran pun kalau harus jaga ya jaga. Sebagai mahasiswa yang baru menjadi co-ass, aku pun berusaha sabar menerima tugas ini untuk menggapai cita-citaku menjadi dokter. Apalagi karena keluargaku begitu menyemangatiku.
"Ayolah semangat Mia. Kan sebentar lagi mau jadi dokter. Nanti bisa obatin Bapak kan, " Ibu menyemangatiku lagi. Ibu memang wanita yang lembut. Beliau begitu bisa menyemangatiku disaat aku merasa tidak ada lagi yang bisa menyemangatiku.
Aku tersenyum ke arah Ibu dan Bapak. Bapak harus duduk di kursi roda karena stroke. Tapi itu tidak menjadi penghalang Bapak untuk tetap ceria dan bersemangat. Beliau juga tak pernah ketinggalan selalu tersenyum menyemangatiku. Keadaan Bapak menjadi penyemangatku untuk menjadi dokter saraf.
"Ya sudah. Mia pergi dulu yaaa. Jangan dihabisin makanannya. Wassalamu'alaikum," aku tersenyum pamit setelah mencium tangan Ibu dan Bapak lalu mencubit pipi Tiara.
"Wa'alaikumsalam warrahmatullah wabarakatuh," semuanya serempak menjawab salamku, mendoakan keselamatan, rahmat, dan berkah untukku dengan penuh senyuman. Senyuman penyemangat yang seolah berkata "ayo jangan menyerah mengejar cita-citamu." Senyuman keluarga yang hangat dan penuh cinta. Senyuman mereka.
***
Aku pandangi wajah itu lekat-lekat. Tak ada. Tak ada lagi senyuman itu. Mana? Mana senyuman yang menyemangatiku? Mana senyuman yang hangat itu? MANA? Yang ada hanyalah wajah kaku, rusak, pucat, penuh memar, dengan tubuh yang terbungkus kantong kuning. Mana senyum keluargaku?MANA?
Ibuuuu!!!!
Bapak!!!!
Uni!!!
Uda!!!
Tiara!!!
Semuanya kaku...Wafat. Mati. Meninggal. Tewas.
Padahal tiga hari yang lalu...sesaat sebelum aku pergi jaga, mereka masih tersenyum padaku. Namun selang dua jam berikutnya setelah bumi ini bergoncang...aku pun sadar, itu senyum terakhir mereka untukku. Bahkan kata-kata terakhir mereka untukku. Mereka tak tersenyum lagi padaku sekarang. tak tersenyum lagi. Aaaaaaaaaaarrrrrrrrkkkkkkkhhhhhh!!!!!!!!!!!!!
"Hhhh...huuu....hhhhhhh...hhhhhhhh...."aku hanya bisa merintih menangis...pergi sudah semua keluargaku. Mengapa harus kebetulan rumah kami di dekat pusat gempa? Mengapa harus mereka semua meninggalkanku sendiri disini meratap?? Mengapa mereka harus meninggal, Yaa Allah? Aku dengan siapa sekarang??
Aku tak pernah membayangkan percakapan waktu itu adalah percakapanku yang terakhir dengan seluruh anggota keluargaku. Ibu yang begitu penyayang, Bapak yang pantang menyerah, uni dan bahkan anaknya yang baru berumur satu tahun. Aku tak pernah membayangkan mereka akan pergi begitu saja ketika aku tak bersama mereka. Aku tak pernah membayangkan betapa hidupku berubah hanya dalam hitungan jam. Aku tidak pernah merasa begitu kesakitan seperti sekarang, ditinggal mati orang-orang yang paling aku cintai. Aku tak pernah membayangkan ini semua benar-benar terjadi padaku walaupun ini semua bisa terjadi pada siapa saja termasuk aku....ya...aku....
Aku ingin menangis sepuas-puasnya.
Aku ingin meratap.
Aku putus asa.
Allaahu Akbar
Allaahu Akbar
Sayup-sayup terdengar azan Maghrib. Aku merinding. Aku tersentak dan tersadar.
"Hhhhhhhuuuuuuuhhhhhhuuuuu...."tangisanku makin menjadi.
Astaghfirullah...Astaghfirullah...Astaghfirullah...
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Aku memohon ampun Yaa Allah. Aku tak boleh putus asa.
Astaghfirullah...
Sungguh aku tak pernah tahu, Tuhanku, kapankah ajal ini akan datang padaku. Sungguh maut itu begitu dekat dan bermisteri. Padahal hanya berselang beberapa saat saja setelah aku berkumpul bersama keluargaku, tiba-tiba sekarang mereka semua telah pergi meninggalkanku. Sungguh jika aku tidak menggantikan temanku jaga, tentu saja aku juga telah pergi. Pasti ada hikmah dibalik semua ini. Ada hikmah mengapa aku harus hidup sampai sekarang ini.
Astaghfirullah...
Jika aku yang Kau ambil nyawanya wahai Tuhanku...aku tak yakin apakah timbangan pahalaku sudah cukup berat.
Astaghfirullah...
Aku menguatkan diriku. Membalut hatiku dengan airmata yang mengalir. Meyakinkan diriku dengan mengingat Tuhanku. Aku tidak sendiri.
Aku bergegas berwudhu. Maghrib. Bersujud kepada Allah SWT. Mendoakan mereka yang telah pergi. "Kumohon Tuhanku, tempatkanlah orangtuaku, keluargaku, semua umatMu di tempat terbaik. Terimalah segala kebaikan dan ibadah kami. Ampunilah dosa-dosa kami. Tabahkanlah kami, hamba-hambaMU. Ampunilah kami, Wahai Tuhanku. Amin...Yaa Allah."
***
Allaahu Akbar
Allaahu Akbar
Azan Subuh. Aku terjaga. Ada air mata mengalir di pipiku. Tiba-tiba aku teringat kembali dengan peristiwa tujuh tahun yang lalu. Peristiwa gempa di tahun 2009 yang menewaskan keluargaku. Mungkin karena hari ini, aku akan ujian kelulusan program pendidikan dokter spesialis saraf. Setiap kali akan ujian dan merasa memerlukan semangat, aku selalu teringat dengan peristiwa gempa itu. Peristiwa yang menyadarkanku betapa besarnya arti keluarga dalam hidupku. Ibu, Bapak, Uni, Uda, Tiara. Mereka adalah motivator hebat yang selalu membuatku bersemangat, dalam keadaan yang sangat susah sekalipun. Mereka membuatku tak menyerah. Walau mereka tak tersenyum lagi padaku, aku akan tetap berusaha tersenyum semangat dalam menjalani hidup. Mensyukuri dan mengenang setiap senyuman yang pernah mereka berikan untukku untuk menyemangatiku agar aku menjadi lebih baik lagi. Alhamdulillah, Terimakasih Yaa Allah karena telah memberikanku kesempatan untuk hidup bersama orang-orang yang sangat mencintaiku. Jagalah mereka Yaa Allah.
t_031009
*cerita ini hanya fiksi semata, apabila ada kesamaan nama, kesalahan penulisan, penulis mohon maaf...
**semoga note ini bisa bermanfaat bagi kita semuaa...amin :)
***mari kita doakan korban gempa di Sumatera dan bencana di mana saja agar diberi kekuatan dan ketabahan, tak hanya itu mari kita doakan agar perang di dunia ini segera berakhir agar tiada lagi korban berjatuhan, begitu pula kekejaman, penindasan, korupsi, dan segala bentuk kejahatan yang merusak dunia kita bersama yang indah ini (penebangan liar, pembuangan sampah sembarangan, dan lainnya) . let's build a better earth, because earth is not mine or yours, but earth is ours and our children's :)
Subscribe to:
Comments (Atom)