Showing posts with label Nijmegen. Show all posts
Showing posts with label Nijmegen. Show all posts

Tuesday, December 1, 2015

#tropicalsjournal : Overview of the Courses in Nijmegen (2010)

Akhirnya ngebahas course nya juga. Jadii course nya ada tiga: Health and Disease in the Tropics, Public Health in International Perspective, HIV/AIDS. Masing-masing course 1 bulan, total semua 3 bulan.

Hari senin nya, alias sehari setelah sampai, dimulai lah course Health and Disease in the Tropics. Pagi-pagi jam 8an, kami udah dijemput sama Marit dan Floor, student Belanda yang mau jadi volunteer buat jemput dan kasih orientasi singkat ttg kampus. They were so friendly and helpful. Alhamdulillaah cuaca ga sedingin pas baru sampai, kami jalan kaki dari hotel, jalan santai sekitar 15 menit. 

I love the design...di bawahnya yang deket kolam ada tunnel

Kampus FK persis di belakang hotel, tp jalannya agak mengelilingi gitu jadi ya lumayan...later we found out kalo sebenernya ada tunnel alias lorong bawah tanah, di bawah hotel yang terhubung sama RS dan kampus, ada tulisan rutenya kl mau ke kampus lewat mana, ke RS lewat mana. (Dan sengaja sama senior kita ga dikasih tau katanya biar nemu sendiri). Untuk keluar masuk hotel dan tunnel, semuanya pake kunci kamar yang bentuknya kartu.

Tunnelnya keren...selain tempat lewatnya petugas RS, biasanya perawat yang naik skuter atau mobil kecil ky mobil di airport/lapangan golf, juga tempat transport pasien antar ruangan. Jadi pasien-pasien ditransport lewat tunnel, ga lewat jalan atas di RS. Hampir setiap hari kita pergi ke kampus lewat tunnel, karena hangat juga di dalam ruangan. Kecuali kalo ada keperluan, baru deh saya, Rizky, dan Hamda naik sepeda ke kampus.

Kata orang, orang bule itu cuek. Tp alhamdulillaah selama di Belanda, setiap kali lewat tunnel pasti kita duluan yang disapa sm petugas disana "Morgen..." (Morning) sambil senyum, kalo ketemu yang jilbaban jg disapa "Assalamu'alaikum..." They do greet strangers, yang bahkan saya sndiri jarang di Indonesia. 

Oke...sampe di kelas pertama kali. Degdegan cyiiin hihi bule semuaaa. Jadi kita sesi pertama perkenalan dulu, disuruh duduk sebelahan sama temen yang bule. Jadi mejanya ada tiga kolom dan beberapa baris. Per meja biasanya 4-5 orang. Saya duduk di belakang dekat cewe bule cantik banget ky model, namanya Froukje, soon to be one of my closest friends there.

Kenalan sama mahasiswa dan sama dosen, dibilangin jangan malu-malu ya just speak english, remember no one in this room is native english so don't worry too much about your english. Seneng, seneng bangett karena dosennya sangat-sangat encourage...bikin PD. 

Abis kenalan trs masuk ke materi Health and Disease in the Tropics. Disini, saya ga bahas banyak tentang isi materi, tp lebih ke proses pembelajaran yang asik dan interaktif...didukung fasilitas memadai. 

Kelasnya tuh...mantap. Alasnya karpet bro. Trs kebanyakan kelas pasti ada pengatur suhu, lcd yang udah built-in (ga ada lagi tuh ambil-ambil lcd di ruang lcd), sound system, papan tulis, sering jg ada lampu buat baca rontgen.

Enaknya lagi...di kelas boleh makan hahaha. Ada dong yang bawa teh seteko, bawa roti sebungkus gede sambil kuliah sambil oles-oles selai atau kasihin keju/ham, makan apel (ya tapi kyny ga ada yg makan nasi sih). Pas ujian juga gitu. Kynya dibikin nyaman bgt deh mulai dari ruangan dan perut juga.

Materi pertama: Health Resource Allocation Game. Kita dibagi beberapa kelompok. Di materi ini, kita justru ky main monopoli... Jadi kita dikasih peta buta, rumah-rumah kayak di monopoli, data, dan skenario. Dari data, kita diberitahu jumlah dan kepadatan penduduk tiap daerah. Kemudian kita diminta memutuskan dimana akan dibangun hierarki fasilitas kesehatan: ambulans berjalan, fasilitas kesehatan primer/tingkat dasar, sampai rumah sakit besar. Setelah diputuskan, ketepatan keputusan kita akan diuji dgn skenario tertentu. Contoh: di daerah A yang alamnya pegunungan terjadi kecelakaan yang membuat tulang kaki pasien patah terbuka dan harus segera mendapat penanganan di Rumah Sakit. Apakah jarak dari daerah A ke ambulans dan rumah sakit sudah sesuai atau terlalu jauh? Seru banget, krn kita jadi mikir lagi, oiya ini kejauhan ini ga perlu bla bla bla. Walopun jetlag, mata ngantuk, pengen muntah, dan beberapa kali oles minyak kayu putih (dan ditanyain sama temen: "what's that?" Me: "eucalyptus oil." She replied: "wow cool, can I try?" Hihi padahal saya udah takut duluan dikira weird) tapi tetep bisa melek juga karena materinya seperti game.

Where should we build the hospital?

Selain game, umumnya juga ada kelas konvensional dengan modul yang kebanyakan berbasis kasus. Sekelas isinya ga sampe 30 orang jadi lebih deket, dan dosennya ky yang tadi saya bilang sangat encourage. Suatu ketika ada dosen yang nanya: "please mention one of the tropical infections caused by bacteria." Dan mahasiswa nya jawab "dengue." which is virus. Dan ga ada yang ketawa atau ngejek dong. Dosennya malah bilang lagi "good answer but dengue is virus." 
Pokonya tuh setiap kali kita nanya atau jawab pasti minimal dibilang "good question" or "good answer" gitu... (Kalo yang super dibilang "very good") siapa coba yang ga seneng belajar kalo di semangatin gini. Student Belanda juga rajin-rajin deh, walopun tropical infection mungkin awalnya sesuatu yang baru buat mereka, tp abis itu mereka cari tau dan belajar sendiri dan jadi banyak pengetahuannya.

Pada course pertama ini, kami juga sering mendapat tugas berkelompok. Termasuk menyiapkan satu presentasi besar yang akan dipresentasikan akhir course ttg neglected tropical disease. Kelompok saya waktu itu memilih filariasis. Kami membuat frame dan mengerjakannya di ruang komputer. Ruang komputernya wow deh...(headset nya aja masing-masing Sennheiser bro!) terus deket ruang komputer ada printer dan mesin fotokopi. Nah yang nempel lagi di benak saya, pas lagi ngumpulin materi, kan saya mau tuker-tukeran file tu sama temen, trs saya udah ambil flash disc mau copy...eh sama doi dibilang gini dong. "No no...you don't need that." Trus dia langsung copy-copy linknya dan buka email trus emailin ke email saya. Secara internet cepet banget. Buka youtube yang 4 menit sebelum mata berkedip udah kebuka semua dong. Waktu itu flash disc bener-bener jarang dipake.


Selain di ruang komputer, kami juga sering belajar persiapan materi di perpus yang aduhaaaiii. Perpus nya ada beberapa lantai. Lantai satu isinya komputer dan ruang diskusi/latihan presentasi. Saya terpesona pake ada ruang diskusi kecil-kecil sendiri, biasanya buat diskusi kelompok sekalian latihan presentasi karena ada lcd nya juga. Lantai lainnya isinya buku, dan ada lantai khusus printed-out journal. Pastinya ada coffee/choco machine di luar perpus (tapi bayar, ga gratisan ky di student room).

Kalau biasanya presentasi videonya udah didownload lebih dahulu, disini cukup linknya aja yang ditulis di slide. Nanti tinggal di klik langsung connect dan muncul video youtube nya. Serba high speed wifi I'm so in love.

Jadi tu kuliah mostly awalnya konvensional, terus dikasih skenario, diskusi, terus dibikin kelompok, dan presentasi...yang didukung fasilitas sangat memadai.

Saat course kedua tentang Public Health in International Perspective, kami dibagi kelompok lagi setiap kelompok 2-3 orang. Setelah kuliah konvensional di awal course, setiap minggunya wajib bikin paper tentang penyakit infeksi di suatu negara dan bagaimana penanggulangannya (mine was about Tuberculosis in Indonesia) dan hari Jumatnya presentasi...selama empat minggu dan minggu kelima libur hore!

Tapi ya karena setiap senin-kamis bikin paper dan jumat presentasi jadi ya senin selasa tu masih agak santai ngumpulin materi dan mulai ngetik, rabu udah ga bisa nafas mikirin besok kamis kudu ngumpulin paper, begitu kamis selesai ngumpulin paper rasanya legaa deh tinggal presentasi fiiuuuhh. Abis itu weekend dan libur dan siklus mulai lagi hihi.

Course ketiga tentang HIV/AIDS...disini kami belajar HIV/AIDS a to z. Lebih banyak membahas skenario dan teori. Kami juga kedatangan pasien HIV +, seorang wanita usia 40 tahun dan dia cerita she was raped before she got HIV dan sayaa rasanya maraaahh bangeett. (I cursed people who raped her). Sebeeel bangett kasian mbaknya :( but she said she was okay now, she had family and friends who supported her. So touching.

Di course-course inii kami juga belajar tentang MDG -Millenium Development Goals-, sharing tentang keadaan kesehatan antar benua Asia-Afrika-Amerika, role play forum (seperti World Economic Forum) yang mana dalam membangun/memberikan bantuan kesehatan setiap pihak punya kepentingan masing-masing baik itu investor, pemerintah lokal, pemerintah pusat, masyarakat setempat dan bagaimana berdiskusi mencari jalan keluar terbaiknya. Tentunya ada ujian juga di setiap akhir course.

Tropical lagi jadi journalist di role play 

Proses pembelajaran yang bervariasi dan menyenangkan membuat belajar terasa menarik. Setiap jumat akhir course kami juga ada happy hour, makan chips, minum coke, dan foto bareng serta ngobrol antar mahasiswa dan dosen di kelas. 

Abis presentasi lanjut happy hour

Alhamdulillaah saya bersyukur diberi kesempatan belajar disini. Di Indonesia juga seneng, akan lebih seneng lagi kalau fasilitasnya sememadai dan senyaman di Belanda sehingga belajar bisa menjadi sesuatu yang lebih asik, 
menarik, dan selalu bikin semangat. Ibarat anak-anak yang selalu semangat learn through play. Let's pray for a better education system and facility in our beloved country ❤️

Saturday, November 28, 2015

#tropicalsjournal : Survive in Nijmegen - Daily Life (2010)

#tropicalsjourney : survive in Nijmegen - Daily Life (2010)

Dl ga tll kebayang nti mau makan n hidup n nyuci baju gmn di Nijmegen. Kita (we, students: Tropical, Rizky, Hamda) dapet uang allowance yang amat sangat melebihi cukup, tp kita udah niat mau nabung uangnya...ga mau foya-foya. Abis kita tinggal di negeri orang, gatau kalo ada kebutuhan mendadak...jd harus pinter-pinter atur keuangan (tropical edisi wise yang kemudian menyesal ga tll pinter atur keuangan pas lagi jadi mahasiswa di Indonesia. Uangnya kbnykn kabur ke kafe dan mall sist...pdhl kalo ditabung bisa buat jalan-jalan huhuhu maap ya Ma, Pa. Pesan moral utk para mahasiswa dimanapun berada: be wise with your money!!)

Dikasih tau sih sm senior kita ada mesin cuci di hotel (always imagine dormitory ya everytime I say hotel)...tapi mehong sist. Bayar 4euro buat dpt token cuci + deterjen, bayar 4euro lagi buat keringin. Alamak kalo sekali nyuci 8euro eke ga kuaatt. Hehehe. Jadilah kita pk cara tradisional: cuci baju di wastafel/bath tub, keringin di atas kursi/meja taruh deket heater. Krn kelembaban udaranya rendah, dry bgt, cepet lo baju keringnya. Udah gt herannya ga kusut cyiin. Btw, krn disana dingin, mahasiswa kbnykn baru ganti baju kalo udah 2hari...tp ya sbg org Indonesahh eke gbs harus tiap hari ttpan heehe. Kalo untuk handuk, sprei, dll kita udah disediain dari hotelnya yang baru seminggu sekali setiap kamis ditaruh di depan pintu.

Untuk makan, selama sekitar 2 hari pertama disana, kita makan rendang buatan mamanya Hamda yang alhamdulillaah sekali lolos bea cukai. Tante terimakasih banyak ya...enaakk bgtt, save life bangett, dan save from jetlag. Jadi kita bawa sedikit beras, masak nasi pk rice cooker (masak di balkon yg dibuka pintunya krn kalo di dlm ruangan ada smoke detector) trs sesudah masak, kita makan rendang + nasi hangat. Itu heaven on earth bangeeeett!! Kita ber7 (Indonesian, Tanzanian, Nicaraguan) makan di kamarnya Hamda n cekikikan disana. Ohiya let me introduce us dari Indonesia ada tropical yg ceria dan happy, Rizky yang cerdas dan pendiem tp kdg jayus, Hamda yang paling wise dan dewasa... dari Tanzania ada Liz yang dewasa ky hamda dan asik, Eliza yang pinter, dan Charlz yang kocak... dari Nicaragua ada Darwin yg ky Joey (how you doin' partnya) tp versi pinter. Semua nya dari benua Amerika-Asia-Afrika sukaaaa sama rendang mamanya Hamda. Top tenan!


Ketika rendang udah abis, galau pun datang. Kita mulai cari-cari tmpt makan. Di kampus FK ada sihh cafetarianya tp ga ada nasi ga nampol buat perut tropical kalo cuma makan roti-daging-keju-pisang-apel-bakso. Dari rekomendasi roommate yg orang Palestina, kita dikasih tau ada restoran Turki yang lmyn deket hotel, deket mini market namanya Aldi juga. Aldi ini mini market dari Jerman, jualnya macem-macem unik-unik kl kata saya. Untuk makanan di resto turkinya, saya lmyn sukaa jd ky french fries, potongan daging, trs saos dan mayo. Enak rek. Porsi besar utk saya (porsi biasa untuk rizky) harganya skitar 3euro. Tp keknya kurang cocok buat lidah tmn-tmn Tanzania dan Nicaragua. Kalo yang lebih deket lagii ada namanya The Refter jadii ky kafetarianya universitas. Bener-bener tinggal nyebrang hotel. Kita bisa beli menu vegetarian/no pork yg ada setiap hari, porsi gede, bisa bungkus kalo ga abis, harga sekitar 3,45+ euro. Sehari dua hari kita makan disana...tapi tapi tapi, kita msh merasa kemahalan dan mesti hemat lagi. (Apalagi kl makan di resto ga sanggup kitaa bs plg murah 5euro hahahaha). Akhirnyaa kita memutuskan buat Save and Safe (nabung dan aman ehhehe) alias kumpulin uang, masak sendiri apalagi kita bawa rice cooker, punya dapur di hotel (walopun ga ada kompor, adanya cm microwave dan kulkas dan panci...oiya ky piring gelas gt kt udah dipinjemin sm Mieke - Secretary of International Office), trs bisa grocery shopping. 

Kita tawarin ke temen-temen ber7 siapa aja yang mau ikutan masak brg biar patungan bs lebih hemat. Sekali makan kita press smp 1euro bahkan bs kurang, dan ga msti ikutan 3x makan. Bisa dinner thok. Semuanya pd mau ikutan, dinner pd ikutan semua tp kl bfast and lunch g semua ikutan krn ada yg bfastnya kenyang makan roti. (Duh ga tropical bgt itu hahaha). Sehari 3euro, 7hari 21euro...dari semuanya bs dpt patungan smp 75euro. Alhamdulillaah krn bnyk yg patungan bs dipress lagi sekali makan ga nyampe 1euro jd kt masih dpt kembalian.

Setiap senin saya dan Rizky grocery shopping naik sepeda (ohiya jd begitu smp di Belanda, saya dan Rizky dikasih Mieke kunci sepeda lungsuran dari senior kami: bedankt voor mb Happy en kak Krisna. Bergunaa bgtt pokonyaa sepeda di belanda itu. Tp saya udah lama bgt g naik sepeda, terakhir pas masih SD kynya. Jd awal2 smpt kagok dan mau jatoh gt huahahaha...tp lama-lama alhamdulillaah bisa dong ky Dutch people naik sepeda sambil foto-foto dan bawa grocery yoohoo.)

Saya dan Rizky grocery shopping di Albert Heijn (AH) XL deket hotel, tinggal belok kanan, lurus, lampu merah, lurus, belok kanan lagii yaa gitu dehh hehe. Grocery shoppingnya bawa backpack dan kresek sendiri, secara disana ga dapet kresek kl g beli. Kebetulan kita udah punya kresek AH beli di centruum...kuat bgt lo itu. Grocery shopping buat seminggu buat 7orang jd kita pasti beli beras 5-10kilo, kentang, sayur, daging sapi, ayam, sosis, bawang, kerupuk, tomat, paprika, buah, sambel badjak superenak, telor yg ada size s-m-l-xl nya. (daging dan ayamnya udah dipotong n ada yang udah dibumbuin juga, kentangnya jg udah di peel, sayur nya buat salad udah ada kemasannya. Kt disini masak ga pake uleg-uleg bumbunya paprika dipotong-potong, tomat, pepper, garem, seasoning yg ada di dapur deh). Kalo ada uang lebih kita belii vla (aselii inihh enaakk wajib coba). Naah naah dl kan kita pernah diskusi sm tmn yang lmyn ngerti ada yg blg kalo makan daging sapi/ayam (yg disembelih) tu walopun ga ada tulisan halalnya boleh kl di negeri Ahli Kitab (kita ga tau kan ya sembelihnya baca bismillaah or ga)...tp tnyt further discussion ada yg bilang ttp sebaiknya pilih yang ada tulisan halalnya (ada halal corner jg di AH walopun seuprit) atau sekalian makan ikan or seafood. Jadi pilih lah yg halal ya.

Barang yang kita beli pastinya terutama yg merk Euroshopper alias semacam value plusnya AH heheheh yg paling murah meriah tp enakk kok.


Selesai grocery, kita masukin dan tata tata tu beras dll ke backpack, pulang dan taruh lagi di kulkas hotel. Dipake buat seminggu. Semua ada tulisan expirenya. Krn kita yg shopping yg paling tau kpn expire, jd kita bikin menu juga. Yang masak buat dinner biasanya Liz dan Eliza...saya bantu potong-potong aja (sama jd bendahara n grocery shopping hahahaha).



Jadii kegiatan kita pagi masak ayam/daging yg ud dibumbuin pk microwave, masak nasi pk rice cooker. Beneran deh, rice cooker Hamda penting bgt. Selagi nunggu, trs cuci baju/mandi...

Nah jd kamar mandinya nya itu ada dua bagian di depan dan belakang masing-masing lantai. Isi masing-masing kamar mandi: wc 2 room, shower 1 room, dan bath tub 1 room. Kalo ke WC, saya niruin tmn, bawa botol coke segede 1,5L diisi air keran dl hihihi. Kalo showeran ga perlu. Sabun dan sampo lengkap dijual di AH atau Aldi kl mau yg unik-unik. Tp sy smpt bawa dr Indonesia, (pembalut jg adaa di supermarket dan banyak yg ga model tampon jd aman).


Abis mandi trs makan, jemur cucian, berangkat. Sebelum berangkat kita mampir ke student room buat isi minum coklat di dispenser gratisan disana. Hihi jadi kangen deh rutinitas course. Btw ttg student room, awalnya kita jarang bgt pk ini ruangan...student room bagi kita adalah kamar Hamda, tmpt kumpul trs ngerumpi. Tapii suatu saat krn kita berisik kali yaaa, Hamda dpt surat 'Go to student room and shout there.' Ooppsss ampuun brooo. Kita pun ga pernah makan dan berisik di kamar hamda lagi, jdnya kita di student room deh. 

Jadwal course yang asik biasanya memungkinkan kita makan siang dan solat di hotel... Trus malemnya jam 5-6 sore Liz dan Eliza mulai masak, jam 7 malem beres, trs kita bawa masakan dan piring segala macem ke student room. Makan disana n ngobrol panjang lebar sampe jam 9 malem. Student room nya asik walopun agak tua gt interiornya. Ada TV, sofa, meja billiard, kartu, board game Belanda, piano, dispenser coklat-air putih-susu coklat-espresso, tempat cuci piring, meja makan. Betah deh ngobrol disana. Kita bertujuh deket banget krn sering ngobrol macem-macem mulai ttg sekolah, pelajaran, temen, keluarga dll.

Sepiring ga nyampe 1euro seneng bgt.
Super machine!
Hi, it's us!!

Jam 9 malem kita pulang ke kamar masing-masing ngerjain assignment atau belajar (pencitraan hehe) dgn wifi supercepet bangeeett. Trus sekitar jam 10-11 tidur.


Weekend biasanya kita ga masak krn jalan-jalan keluar Nijmegen atau beli makanan di centruum hasil nabung seminggu...kadang ya masak jg. Alhamdulillaah dgn masak sendiri, cuci baju sendiri, sering naik sepeda bikin bnyk yg bisa ditabung dan dihemat. Seneng deh, bukan krn pelit tapi krn bisa mandiri mengatur prioritas keuangan. (Ciyeh. Balik Indo dipraktekin juga doong!!) apalagi kalo pas ada traktiran gt tambah seneng hehehe. 

This is a brief about how we survive in Nijmegen. Excited dan seneengg krn bisa mandiri. Seru bangett! Alhamdulillaah... Semoga kapan-kapan bs sekolah/course di luar negeri lagi, bareng suami, bawa anak... Aamiin... Eh bukan ga sayang negeri sendiri lo ya, justru saat keluar negeri kita semakin sadar kalo Indonesia itu beautiful bangett mau makan apa aja ada, enakk ga dingin. Di luar carii pengalaman, sharpen the knife, cari ilmu...yang mudah-mudahan bisa bermanfaat untuk nusa dan bangsa. Aamiin...

Tuesday, November 24, 2015

#tropicalsjournal : Arrived in Nijmegen (2010)


Hehe tropical tu maksudnya saya alias mamanya taqiy. dari SMA suka bgt sama kata-kata tropical smp email jaman abege pun pake kata-kata tropical. Pas kuliah baru deh ganti pk nama sebenarnya abis kan mau ngumpulin tugas ke dosen jd biar ga wagu gt.

Oke lanjut perjalanan ke Nijmegen. It's been 5 years ago actually, smpt ditulis di blog n note fb walopun dikit bgt dan skrg selalu menyesal knp dr dulu ga nulis. Ya maklum deh dl tropical anak labil yg lebih sering main drpd nulis...really wish I could turn back time and write more than play more hahaha.

Alright....alhamdulillaah saya dan teman seperjuangan Rizky bisa dpt kesempatan kursus di FKnya Radboud Univ. Nijmegen the Netherlands (alhamdulillaah Yaa Allah... Terimakasih bnyk Prof. dr. Edi Dharmana, Ph.D, SpParK yang selalu menjadi motivator setiap mahasiswanya, Prof. dr. M. Hussein Gasem, Ph.D, SpPD-KPTI dan dr. Nur Farhanah, SpPD yang sudah mempercayakan saya dan Rizky untuk ikut course, serta our sunbae Mb Happy, Mb Ajeng, Mas Dagdo, Mb Indri, Mas Krisna... Semoga kita semua sll dalam berkah Allah SWT aamiin)...pengalaman bgt seumur hidup yang ga akan saya lupakan insyaallah.

Setelah persiapan macem-macem, visa, materi, dokumen, tgl 27 Februari 2010 saya dan Rizky dari Undip serta Hamda dari Unpad berangkat. Pake drama dulu dong overweight di Soekarno Hatta dan terpaksa bongkar koper. Kalo ga salah waktu itu kelebihan 1kilo nya bayar 25usd pusing pala barbie udah bangkrut sebelum berangkat...jd mending kita packing ulang (yg tdnya 2org bawa rice cooker, jd 1orang aja. Rice cooker? Hehe remfong ya tapii ini penyelamat kalo mau tinggal jangka panjang di negeri orang hehe). Jaman dl masih cupu ttg check in online, krn kita ga prior check in jadinya check in offline dan duduk kepisah-pisah. Disebelah saya ada dua cewe abg belanda yang abis liburan dari Bali. Bajunya masih you can see, sementara saya udah prepare winter coat, pake legging sebelum jeans dan baju 2 lapis hihihi. Ya gpp lah ya biar gausah ganti baju lagii.

Tgl 28 Februari 2010 kita sampai di Schipol Amsterdam sekitar jam 5.30 pagi. Kalo di aplikasi azan tu pas bgt kita nyampe pas subuh, dan blm solat subuh jadilah cari-cari tmpt solat dl di airport, kl dulu kata petugas airportnya adanya di departure gate, ga ada di arrival gate. Haduh hati resah kalo blm subuh #tsaaah akhirnya kita mutusin buat solat di nursing room. 

Oiyaa...sblm solat kan ke toilet dl tu, naaahh pesan yg sll kita dpt: jangan lupa bawa botol kosong buat diisi air buat bersih-bersih secara di wc eropahh mostly ga ada airnya adanya tisu doang. Ga biasaaaa ekee pk tisu doang hehe.

Setelah selesai solat di nursing room, kita langsung cari makan yang affordable (yakni chicken burger) sambil ke meeting point tmpt janjian sm pak taksi yang akan nganter kita ke Nijmegen sekalian nungguin tmn-tmn yang dari Tanzania. Udah lengkap semua, kenalan, trs langsung dehh cus Nijmegen. Ini pertama kalinya saya menginjak tanah eropa, waktu itu ujan...tp blm dingin-dingin banget krn di mobil ya rasanya msh ky ac mobil deh. My Nijmegen journey started!


Sekitar 2jam perjalanan via taksi, alhamdulillaah smp juga di Nijmegen, di Radboud Hotel, Radboud University (jadi semacam asrama untuk mahasiswa internasional gt). Begitu keluar mobil...langsung disambut angin musim dingin bwuuusssh dingiin bangeett ky freezer. Tp rasa excited mengalahkan rasa dingin dong ehhehee. Celingak celinguk sambil dalam hati bergumam Oh God I'm at the other side of the world 😍 disinii kita udah disambut sama Ibu sekretaris International Office, Mieke (ya betul disini ga pake Bu Mieke Bu Mieke...lgsg aja Mieke gt manggilnya, kdg-kdg kita pake Ma'am) yang akan jadi 'mama' kita selama disinii (mamaaaa kangeeen). Mieke bawain piring, gelas, apel, dokumen, dan uang saku hore! Trs menunjukkan kamar kita masing-masing dan kasih kunci kamar juga. (Dan kamar inii cuma bisa dibuka pake kunci, begitu pintunya ketutup dan kunci ketinggalan di dalem selamat dehh nelfon tukang kunci 😹😹😹 jadi tu kunci emang bener-bener harus dikalungin)

Kita total ada tujuh internasional student yang akan ikut course health and disease in the tropics, public health in international perspective, HIV/AIDS. Tiga mahasiswa dari Indonesia, tiga dari Tanzania, dan satu dari Nicaragua. Lima orang tinggal di lantai 6, dan dua orang di lantai 5 (bareng sama internasional student dari negara lain yang lagi studi macem-macem disini).

Pas baru nyampe langsung ketemu temen sebelah kamar dari Palestina...senengg bangett disapa duluan, dikasih tau arah kiblat, trs dikasih tau tempat-tempat makan halal yang mana aja. Abis diorientasiin singkat sama Mieke, kami ketemu dua orang student dri Belanda Nienke dan Floor yang bakal ngajakin kami anak baru ke city centre, orientasiin bis-bis dan jalan.

Halte bis nya entah kenapa pas hari pertama g tll jauh dri hotel (bayanginnya asrama ya) tapi besoknya kerasa jauuh bgt hahaha. Naik bis dari Halte terdekat ke Centruum (city centre) trs jalan-jalan smbil kenalan (bahasa Inggris sy grogi waktu itu...grammar error seriing, tapiii put it in your mind, jangan tll fokus pada kekurangan, ttp dan terus semangat. Kalo kata dosen saya besokannya: nobody in our class is native english, so don't be afraid to speak or make mistake. Daan dl juga pernah pas smp ada acara dan ada seorang guru bahasa inggris dgn aksen Padang yang kental bilang accent is beautiful. Waktu itu sih saya iya-iya aja, tp skrg bener kok...accent is beautiful coba dehh nonton Devious Maids or Now You See Me...beautiful (dan wow) banget kan accent latino dan french nya. So it's okay to have accent...samalah ky bule kl ngomong Indonesia. Karena kami masih belajar, jadi harus percaya diri sambil terus semangat improve.) (nahh gini deh saya kalo nulis suka belok trus panjang jadinya yuk balik lagi).

Abis puter-puter centruum, kita nganget (kalo di Indonesia ngadem) dl di cafe secara dingiiiiiiiin bgtt udah mau ujan lagi... Saya sok sok mesen teh (sekarang rekomen kalo ke cafe pesenlah hot choco dgn whip cream yang wuenaakk bgt walopun guilty abes). Abis dari cafe trs mampir ke Albert Heijn Centruum, semacam supermarket Belanda gitu, buat beli simcard (berdasarkan rekomendasi senior sebelumnya yg paling murah providernya Lebara, jadi kalo beli pulsa dpt bonus dan gratis telfon le sesama Lebara) dan tiket bis. Jadi kl bayar bis bisa pake cash, kartu, atau tiket. Nah tiketnya inii seharga 15 euro, sekali naik di cap sekali di 1,5euro... Bisa juga dua kali cap tergantung jaraknya.


Albert Heijn ini favorit saya bgtt sebagai penyuka grocery shopping!! Semuanya lengkap di Albert Heijn (lebih lengkap di Albert Heijn pusat sih), banyaakk pilihaan. Belanja disini (dan kebanyakan toko lainnya di Belanda) pasti ditanyain struknya mau dicetak ga, trus ga dikasih kresek -kreseknya harus bayar- jadi konsumen musti bawa kresek sendiri...go green deh krn bnyk bgt kertas struk dan kresek yang bisa dihemat. Coba di Indonesia gini ya (kalo ngebandingin sama negara maju pasti akan banyak kata-kata 'Coba di Indonesia gini ya' aamiin...). 

Oiyaa jadi di Belanda toko-toko hari minggu kebanyakan tutup, kecuali tmpt makan dan Albert Heijn centruum ini, tiap harinya juga toko-toko buka smp jam 17.00 (weekend lupa jam berapa), kalo tmpt makan bisa smp jam 21.00. Uniknya, ada hari minggu tertentu setiap bulan (dl kalo ga salah di Nijmegen seringnya hari minggu pertama setiap bulan) toko-toko buka dan ada semacam kaki lima/flea juga...namanya koopzondaag alias Sunday Shopping.

Selesai dari Albert Heijn centruum kami langsung jalan keluar menuju halte Plein 44 nunggu bis pulang ke Radboud Hotel. Saat itu hujan dan dingiiiiiiin bangeeett bener-bener ky lagi di freezer trs disiram air dingiiin. Bisnya stopnya udah ada jamnya, dan pastinya stop cuma mau di halte. Seneng deh teratur banget. Coba di Indonesia gini ya. Bisa kan ya. 

Sampe di hotel...seneng excited naik ke kamar via lift ehh trs liftnya stop maceett hahahaha. Pengalaman pertama terjebak di lift. Jd tnyt ni liftnya punya sensor kalo kita terlalu mepet pintu lift, liftnya bakal otomatis stop. Ga lama liftnya berhasil hidup lagii...sampe kamaar langsung asik tata-tata (hobby saya bangett) trs siap-siap buat kuliah besoknya. Excited! Excited! ☺️

Wednesday, November 18, 2015

Why did Safar Banu Die?

In 2010, alhamdulillaah I got a chance to attend three courses in the Netherlands. The courses were: Tropical Infection, Public Health in International Perspective and HIV/AIDS. There were many interesting subjects from each course. However, this one, I think, is the most interesting, one of the deepest discussions during the whole course.

http://info.worldbank.org/etools/docs/library/122031/bangkokCD/BangkokMarch05/Week1/1Monday/S3Pathways/Safarcase.pdf

Why did Safar Banu die was a case, a real case, about a mother with nine children who was about to have her tenth baby. Since she had already nine children she never attended any antenatal classes because she didn’t have any time. She (and her husband) believed that her tenth pregnancy would be just fine. She worked very hard and ate very little. She got anaemia that she didn’t realize… Until the due date, she had difficult labor, bleeding, no money to refer her to the hospital… and unfortunately she ran out of blood and died. The worst of all was she had little support from his husband, the one who should support her the most…

This case was very miserable since this was a true story. The fact is, there are a lot Safar Banu cases especially in developing countries. In Indonesia, based on Indonesian Health and Demographic Survey 2012, maternal mortality is up to 359 death per 100,000 birth alive with bleeding as the main cause of death. Anaemia during pregnancy, increases the risk of bleeding in labor. 

If only every pregnancy is being well planned and well supported, I believe there will be less Safar Banu case in the world. In your opinion, what can we help in order to support life since pregnancy? 

In depth reading: 

http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/infodatin/infodatin-ibu.pdf