"Mama...Mama...jangan sedih lagi Ma... Sudahlah Papa jangan dicari lagi...," gadis itu berkata untuk kesekian kalinya, lagi, dan lagi kepadaku. Sejak tiga hari yang lalu berusaha menghiburku. Tersenyum lirih dengan bajunya yang kusut, kotor, dan tak diganti.
"Hmmmhhh," aku menghela nafas. Beranjak meninggalkannya. Melangkah menjauh darinya.
"Mamaaaa....Jangan pergi Mamaaaa!!!" Dia berusaha menahan langkahku dengan teriakannya. Tapi aku tetap pergi darinya.
Entah mengapa dia memanggilku mama. Begitu pula setiap orang yang mendekat padanya. Keadaan ini pasti begitu berat baginya sehingga terpukul jiwanya.
Aku menatap sekeliling yang masih penuh kekacauan. Darah, tanah, dokter, tentara, orang-orang lalu lalang, teriakan, tangisan. Aku sendiri juga kacau. Galau.
Pokk...
Seseorang memukul pundakku. Aku berbalik. Kali ini seorang pria yang aku tak tahu apakah aku menginginkan kedatangannya atau tidak. Sebenarnya aku berharap dia tak usah ada disini.
"Sudah datang lagi,"katanya padaku seraya melangkah keluar. Aku mengikutinya, mengikuti langkahnya, melihat satu-satu ke yang disebutnya 'sudah datang lagi'. Lama aku mencari, meneliti, dan cemas sampai akhirnya aku berhenti. Itu mereka!!!
***
"Malasss. Malas harus jaga sore ini. Padahal kan mau makan-makan di rumah dengan Tiara," aku menyerahkan keponakanku yang baru berumur tepat satu tahun itu kembali ke pelukan ibunya, uniku, uni (kakak perempuan) Lia.
"Iya kan Mia calon dokter. Harus semangatlah," Ibu menyemangatiku sambil terseyum teduh. Senyum khas seorang Ibu untuk anaknya.
"Hahaha. Kasiaaaaannnn!!" Uni Lia menggodaku. "Kami di rumah mau makan-makan semua. Uni, Uda, Ibu, Bapak, Tiara."
"Huuhh,"kataku sebal. Seharusnya hari ini bukan jadwalku jaga, hanya saja temanku mendadak sakit dan hanya aku yang bisa menggantikannya jaga. Padahal hari ini sudah direncanakan akan ada perayaan ulang tahun Tiara. Makan ikan bakar, rendang, dan lain-lain di rumah. Lengkap dengan semua anggota keluarga. Beginilah nasib co-ass, kadang jadwal jaga suka tidak bisa dikompromikan. Jangankan hanya ulang tahun keponakan, lebaran pun kalau harus jaga ya jaga. Sebagai mahasiswa yang baru menjadi co-ass, aku pun berusaha sabar menerima tugas ini untuk menggapai cita-citaku menjadi dokter. Apalagi karena keluargaku begitu menyemangatiku.
"Ayolah semangat Mia. Kan sebentar lagi mau jadi dokter. Nanti bisa obatin Bapak kan, " Ibu menyemangatiku lagi. Ibu memang wanita yang lembut. Beliau begitu bisa menyemangatiku disaat aku merasa tidak ada lagi yang bisa menyemangatiku.
Aku tersenyum ke arah Ibu dan Bapak. Bapak harus duduk di kursi roda karena stroke. Tapi itu tidak menjadi penghalang Bapak untuk tetap ceria dan bersemangat. Beliau juga tak pernah ketinggalan selalu tersenyum menyemangatiku. Keadaan Bapak menjadi penyemangatku untuk menjadi dokter saraf.
"Ya sudah. Mia pergi dulu yaaa. Jangan dihabisin makanannya. Wassalamu'alaikum," aku tersenyum pamit setelah mencium tangan Ibu dan Bapak lalu mencubit pipi Tiara.
"Wa'alaikumsalam warrahmatullah wabarakatuh," semuanya serempak menjawab salamku, mendoakan keselamatan, rahmat, dan berkah untukku dengan penuh senyuman. Senyuman penyemangat yang seolah berkata "ayo jangan menyerah mengejar cita-citamu." Senyuman keluarga yang hangat dan penuh cinta. Senyuman mereka.
***
Aku pandangi wajah itu lekat-lekat. Tak ada. Tak ada lagi senyuman itu. Mana? Mana senyuman yang menyemangatiku? Mana senyuman yang hangat itu? MANA? Yang ada hanyalah wajah kaku, rusak, pucat, penuh memar, dengan tubuh yang terbungkus kantong kuning. Mana senyum keluargaku?MANA?
Ibuuuu!!!!
Bapak!!!!
Uni!!!
Uda!!!
Tiara!!!
Semuanya kaku...Wafat. Mati. Meninggal. Tewas.
Padahal tiga hari yang lalu...sesaat sebelum aku pergi jaga, mereka masih tersenyum padaku. Namun selang dua jam berikutnya setelah bumi ini bergoncang...aku pun sadar, itu senyum terakhir mereka untukku. Bahkan kata-kata terakhir mereka untukku. Mereka tak tersenyum lagi padaku sekarang. tak tersenyum lagi. Aaaaaaaaaaarrrrrrrrkkkkkkkhhhhhh!!!!!!!!!!!!!
"Hhhh...huuu....hhhhhhh...hhhhhhhh...."aku hanya bisa merintih menangis...pergi sudah semua keluargaku. Mengapa harus kebetulan rumah kami di dekat pusat gempa? Mengapa harus mereka semua meninggalkanku sendiri disini meratap?? Mengapa mereka harus meninggal, Yaa Allah? Aku dengan siapa sekarang??
Aku tak pernah membayangkan percakapan waktu itu adalah percakapanku yang terakhir dengan seluruh anggota keluargaku. Ibu yang begitu penyayang, Bapak yang pantang menyerah, uni dan bahkan anaknya yang baru berumur satu tahun. Aku tak pernah membayangkan mereka akan pergi begitu saja ketika aku tak bersama mereka. Aku tak pernah membayangkan betapa hidupku berubah hanya dalam hitungan jam. Aku tidak pernah merasa begitu kesakitan seperti sekarang, ditinggal mati orang-orang yang paling aku cintai. Aku tak pernah membayangkan ini semua benar-benar terjadi padaku walaupun ini semua bisa terjadi pada siapa saja termasuk aku....ya...aku....
Aku ingin menangis sepuas-puasnya.
Aku ingin meratap.
Aku putus asa.
Allaahu Akbar
Allaahu Akbar
Sayup-sayup terdengar azan Maghrib. Aku merinding. Aku tersentak dan tersadar.
"Hhhhhhhuuuuuuuhhhhhhuuuuu...."tangisanku makin menjadi.
Astaghfirullah...Astaghfirullah...Astaghfirullah...
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Aku memohon ampun Yaa Allah. Aku tak boleh putus asa.
Astaghfirullah...
Sungguh aku tak pernah tahu, Tuhanku, kapankah ajal ini akan datang padaku. Sungguh maut itu begitu dekat dan bermisteri. Padahal hanya berselang beberapa saat saja setelah aku berkumpul bersama keluargaku, tiba-tiba sekarang mereka semua telah pergi meninggalkanku. Sungguh jika aku tidak menggantikan temanku jaga, tentu saja aku juga telah pergi. Pasti ada hikmah dibalik semua ini. Ada hikmah mengapa aku harus hidup sampai sekarang ini.
Astaghfirullah...
Jika aku yang Kau ambil nyawanya wahai Tuhanku...aku tak yakin apakah timbangan pahalaku sudah cukup berat.
Astaghfirullah...
Aku menguatkan diriku. Membalut hatiku dengan airmata yang mengalir. Meyakinkan diriku dengan mengingat Tuhanku. Aku tidak sendiri.
Aku bergegas berwudhu. Maghrib. Bersujud kepada Allah SWT. Mendoakan mereka yang telah pergi. "Kumohon Tuhanku, tempatkanlah orangtuaku, keluargaku, semua umatMu di tempat terbaik. Terimalah segala kebaikan dan ibadah kami. Ampunilah dosa-dosa kami. Tabahkanlah kami, hamba-hambaMU. Ampunilah kami, Wahai Tuhanku. Amin...Yaa Allah."
***
Allaahu Akbar
Allaahu Akbar
Azan Subuh. Aku terjaga. Ada air mata mengalir di pipiku. Tiba-tiba aku teringat kembali dengan peristiwa tujuh tahun yang lalu. Peristiwa gempa di tahun 2009 yang menewaskan keluargaku. Mungkin karena hari ini, aku akan ujian kelulusan program pendidikan dokter spesialis saraf. Setiap kali akan ujian dan merasa memerlukan semangat, aku selalu teringat dengan peristiwa gempa itu. Peristiwa yang menyadarkanku betapa besarnya arti keluarga dalam hidupku. Ibu, Bapak, Uni, Uda, Tiara. Mereka adalah motivator hebat yang selalu membuatku bersemangat, dalam keadaan yang sangat susah sekalipun. Mereka membuatku tak menyerah. Walau mereka tak tersenyum lagi padaku, aku akan tetap berusaha tersenyum semangat dalam menjalani hidup. Mensyukuri dan mengenang setiap senyuman yang pernah mereka berikan untukku untuk menyemangatiku agar aku menjadi lebih baik lagi. Alhamdulillah, Terimakasih Yaa Allah karena telah memberikanku kesempatan untuk hidup bersama orang-orang yang sangat mencintaiku. Jagalah mereka Yaa Allah.
t_031009
*cerita ini hanya fiksi semata, apabila ada kesamaan nama, kesalahan penulisan, penulis mohon maaf...
**semoga note ini bisa bermanfaat bagi kita semuaa...amin :)
***mari kita doakan korban gempa di Sumatera dan bencana di mana saja agar diberi kekuatan dan ketabahan, tak hanya itu mari kita doakan agar perang di dunia ini segera berakhir agar tiada lagi korban berjatuhan, begitu pula kekejaman, penindasan, korupsi, dan segala bentuk kejahatan yang merusak dunia kita bersama yang indah ini (penebangan liar, pembuangan sampah sembarangan, dan lainnya) . let's build a better earth, because earth is not mine or yours, but earth is ours and our children's :)